Social Media's Slave
Welcome! Selamat datang di era dimana semua aspek
bergantung pada aplikasi-aplikasi penyedot uang dan waktu. Dimana segala
sesuatu dapat kau lihat hanya dalam sekali ketikan dan sentuhan. Aku menyadari
dunia yang semakin rakus ini telah memunculkan banyak penemuan baru. Sebut saja
media social. Seperti itulah sebutan untuk aplikasi yang sudah menjadi soulmate kita sehari-hari. Kau lahir
dimasa dimana orang berlomba-lomba untuk mendokumentasikan dan mengupload
sesuatu yang bahkan mereka tidak tahu apa manfaatnya hanya untuk mendapatkan
tanda cinta dari orang-orang yang bahkan mereka tak tahu nama dan ceritanya.
Masa dimana aib lebih baik ditebarkan daripada dikunci rapat-rapat. Saat dimana
orang berbuat kesalahan dan seolah seisi dunia patut tahu kesalahan yang mereka
perbuat. Hari ini entah sudah berapa kali aku temukan aib orang yang tidak ku
kenal di media social. Entah sudah berapa kali aku bergunjing dalam hati untuk
orang yang bahkan aku tidak tahu nama dan ceritanya. Aku tak menampik akupun
dulu menjadi konsumen akun-akun penuh aib tersebut. Tiada hari tanpa membuka
akun mereka, hanya untuk mengkonsumsi aib dari orang yang tidak ku kenal. Lalu aku menyadari, entah apa manfaat akun tersebut untukku. Aku tak
menjadi lebih baik dari mereka yang aku gunjingkan.
Kasus pertama, Sebut saja ada seorang anak muda yang viral hari
ini. Anak muda tersebut tertangkap melakukan suatu kesalahan. Dia
didokumentasikan. Cerita tentangnya menjadi viral. Setiap akun yang memiliki
pengikut ribuan memosting ke viralannya. Dia dan kesalahannya. Kemudian, entah
mengapa perasaan ini muncul. Bagaimana kalau apa yang aku lihat bukanlah
kejadian sebenarnya? Bagaimana kalau cerita yang tertulis bukanlah yang
sebenarnya? Bagaimana kalau aku diposisinya? Itu akan sangat menyakitkan. Kau
dinilai dan dihakimi oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu nama belakangmu.
Orang-orang yang bahkan tidak mengetahui warna-mu. Orang-orang yang bahkan
tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Si pendosa dan Si bukan pendosa. Apakah
untuk itu media social diciptakan? Untuk mengkategorikan siapa yang masuk dalam
shaf pendosa dan bukan? Dear semua temanku, kita semua adalah pendosa. Kau
tidak perlu menghujani mereka yang kau anggap pendosa dengan seribu kata
makian. Apalagi untuk hal yang kau belum tahu kebenarannya. Aku merasa khawatir
untuk anak muda tersebut, terlebih akan masa depannya. Bagaimana dia bisa
mengatasi semua mata tajam dan kata-kata pedas dari orang-orang terhadapnya?
Dia bukanlah pembunuh, pengedar narkoba, terdakwa korupsi uang rakyat atau
teroris. Tapi kesalahan masa mudanya didokumentasikan, diviralkan oleh
orang-orang mengaku sebagai penegak kebenaran serta keadilan. Kalau memang
untuk tujuan moral, menurutku sepantasnya mereka menjaga aib tersebut hanya
diantara mereka, mengarahkan anak muda tersebut, dan memikirkan bagaimana anak
muda tersebut dapat berubah kearah yang lebih baik. Sepantasnya mereka tidak
membuat kisahnya viral, tidak untuk anak muda yang masih dalam usia produktif
dan membutuhkan mata pencaharian.
Kasus kedua, sebut saja ada orang yang ingin mengakhiri hidupnya
dengan melompat dari Gedung yang sangat tinggi. Aku bisa melihat entah berapa
banyak kamera dan flash yang diarahkan padanya dari bawah gedung tempat orang
tersebut akan melompat. Apakah hal tersebut pantas? Sesaat aku merasa kalau aku
adalah keluarga dari orang tersebut, aku tak ingin ada dokumentasi apapun yang
menyangkut tragedi bunuh dirinya tersebut. sesaat aku memikirkan, bagaimana
kalau ada orang lain yang terinspirasi melakukan hal yang sama? Sesaat aku
berpikir, apa yang akan si pendokumentasi dapat setelah mendokumentasikan
tragedy tersebut?
Kasus ketiga. Ada cerita dari anak muda lain yang senang
mendokumentasikan kenakalannya, kerebelannya, kekapitalisannya, masalah-masalah pribadinya. Berbeda
dengan si anak muda di kasus pertama, ia secara suka rela mengupload
kenakalannya. Sesaat aku merasa iba. Mengapa ia begitu bahagia dalam melanggar
norma? Mengapa ia berpikir sangat pendek? Tidakkah ia pikirkan bagaimana masa
depannya. Dear teman-temanku yang masih muda dan berapi-api, aku tahu begitu
melanggar norma terkadang membuatmu merasa powerful. Seakan kau diatas
segalanya karena keberanianmu. Tapi tidak kah kau ingat, waktu ini terus
bergerak maju. Segala yang kau lakukan akan selalu ada konsekuensinya. Siapkah
kau atas konsekuensinya?
Aku pribadi menganggap media social sebagai wadah untuk berbagi
sesuatu yang ada manfaatnya. Wadah untuk menunjuang interaksi sosial. Wadah
untuk menuai kebaikan. Wadah untuk menuangkan aspirasi. Wadah untuk
berkreativitas. Wadah untuk mengetahui kebenaran. Media social bukanlah wadah
untuk menutupi kebenaran, menghujamkan kekesalan, kebencian, makian, aib,
apalagi menyebarkan bad influence.
Tapi aku sadar, tidak semua orang berpikir sepertiku. Tidak semua
orang mendefinisikan media social seperti aku mendefisikannya. Hari ini, aku
memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam bermedia social. Dalam menyerap
sesuatu dari media social. Dalam mendokumentasikan sesuatu. Dalam mengikuti
sesuatu. Gebrakan baru, aku memutuskan untuk berhenti mengikuti semua akun
gossip yang ternyata tidak ada manfaatnya untukku. Okay, it’s almost midnight!
Bye! Moving to a better life.
Comments
Post a Comment